Nurdin Halid, Setya Novanto dan Idrus Marham. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan) DEMOKRASI - Partai Golkar sudah sepakat menendang Setya Nov...
| Nurdin Halid, Setya Novanto dan Idrus Marham. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan) |
Sebelum bicara soal Munaslub, Golkar terlebih dahulu harus memilih Plt Ketum. Plt Ketum nantinya bertugas "memimpin" partai berlambang beringin tersebut hingga ketua baru terpilih dalam ajang Munaslub. Salah satu tugas utama Plt Ketum adalah menyiapkan rapimnas dan kemudian Munaslub untuk pemilihan ketum baru. Plt Ketum juga bertugas menangani seluruh kegiatan administratif partai dan keputusan serta kebijakan hingga ketua baru terpilih.
Publik boleh saja berspekulasi mengenai siapa pengganati Novanto kelak. Namun ternyata pertarungan politik di antara dua faksi besar di internal Golkar sudah dimulai dalam perebutan posisi Plt Ketum.
Sejumlah sumber di internal Golkar mengatakan, faksi kubu Novanto dan anti Novanto semakin terlihat jelas dalam perebutan posisi Plt Ketum. Setya Novanto yang telah ditahan oleh KPK, rupanya mencuri start dengan menunjuk Idrus Marham selaku Plt Ketum Golkar.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono. Agung secara terang-terangan menyampaikan dukungannya terhadap pilihan Novanto menunjuk Idrus.
"Mendukung usulan Ketua Umum DPP Partai Golkar yang telah menunjuk saudara Idrus Marham sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum dengan tugas melaksanakan kegiatan DPP Partai Golkar sehari-hari dan khususnya untuk mempersiapkan dan menyelenggarakan Munaslub Partai Golkar sesegera mungkin," ujar Agung di Kantor DPP Golkar, Slipi, Jakarta, Senin (20/11)
Di faksi lainnya, adalah kubu anti-Novanto yang mulai membentuk satu barisan untuk menjungkalkan pengaruh Novanto di Golkar. Sejumlah Ketua DPP mengatakan faksi ini terdiri dari Aburizal Bakrie, Jusuf Kalla, Yorrys Raweyai, Nusron Wahid. Mereka mengusulkan nama Nurdin Halid menjadi Plt Ketum.
| Setya Novanto dan Aburizal Bakrie di DPP Golkar (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan) |
Yorrys secara blak-blakan menyatakan bahwa Plt Ketum yang paling memungkinkan adalah Ketua Harian Nurdin Halid. Sebab, selama ini tugas Ketua Harian lah yang menggantikan tugas-tugas ketum di partai. Untuk itu, ia meminta Idrus tidak usah berfikir untuk menjadi Plt Ketum apalagi memaksakan kehendaknya.
"Idrus enggak mungkin, dia Sekjen kan mana bisa sekjen jadi Plt, mana bisa? Jangan merusak tatanan yang sudah ada dan itu ketua harian yang harus menggantikan baca aturan aja," tuturnya.
"Enggak mungkinlah, sekjen enggak usah terlalu berpikir yang macem-macem. Bilang sekjen itu mengangkat dirinya sendiri dengan memaksakan kehendak ini kan enggak bagus buat partai," ucap dia.
Nurdin pun ketika dikonfirmasi oleh kumparan, telah menyatakan kesiapannya apabila dipilih menjadi Plt Ketum Golkar.
"Iya memang kalau AD/ART, ketua harian otomatis, kalau ketua umum berhalangan. Otomatis itu harus kita terima. Karena itu tugas, tanggung jawab," pungkasnya.
SUMBER